Sekitar pukul 17:30WIB 5 Oktober 2007, saya di temani Arini belanja di Pasaraya JM Kolonel Atmo Palembang. Saya berencana membeli keperluan sehari-hari dan beberapa potong baju untuk keponakan tercinta : Tia, Yudha dan Gde. Suasana yang cukup nyama dengan panduan yang lumayan ramah pramuniaga cukup saya rasakan.
Setelah selesai membeli keperluan saya, dilanjutkan memilih pakaian yang cocok untuk keponakan tercinta. Mula-mula saya cari baju Bola club kesukaan Yudha, kemudian mencari baju untuk si centil, Tia. Ternyata pakaian anak perempuan modelnya sangat beragam yang membuat saya bingung, untunglah Arini bersedia membantu dan akhirnya ditemukan juga yang di cari. Pencarian berikutnya untuk si kecil, Gde. Untuk si kecil ini, sengaja saya belkan dua potong, biar ada ganti kalo di ompolin. Belanja kali ini lumayan unik, karena belum pernah saya lakukan. Sehingga sering cerewet tanya-tanya ke pramuniaga tentang baju yang cocok untuk umur 7 tahun.
Selanjutnya saya menuju kasir I di lantai 2 untuk membayar denan Debit Permata. Setelah selesai proses membayar, ternyata ada masalah. Baju bola kesayangan Yudha tidak di temukan di box penyimpanan di belakang kasir. Saya coba bersabar dengan menyarakan kasirnya untuk mencari lebih teliti. Namun barang belum juga di temukan. Saya kemudian melihat disaku kemeja, jangan-jangan belum saya bayar. Ternyata ada satu bon yang belum saya bayar, tetapi bukan bon barang yang hilang. Saya pamit ke Arini untuk mengambil uang di ATM BCA di tepan store. Kemudian kembali ke kasir E untuk membayar bon kemudian mengambil barang yand di beli.
Setelah seselai urusan di Kasir E, saya kembali ke kasir I, dan ternyata ada seorang laki-laki berkemeja lengkap dengan dasi menghampiri saya dan mengatakan barang saya hilang. Saya sarankan untuk kembali mencarinya, siapa tahu hanya terselip. Si bapak kemudian minta maaf. Si Bapak menyarankan saya untuk mencari barang lain atau membatalkan transaksi. Hanya segitu bentuk tanggung-jawab yang diberikan JM? Saya sudah mulai kesal dengan ulahnya, namun saya berusaha menahan diri untuk tidak berucap kasar. Akhirnya saya mengalah dengan mencari barang lain. Masalah muncul lagi, ada perbedaan harga – barang yang hilang lebih mahal. Si Bapak nampaknya mikir lagi. Saya coba cegah “Ga usah dipikirin pak, biar saja, asal bisa cepat. Lama-lama saya bisa muntah nih”. Si Bapak pun menyerahkan barang ke saya kemudian berlalu. Saya berkesempatan mengambil gambar sang kasir namun tidak sempat mengambil gambar si Bapak berdasi menggunakan handphone. Kami pun pulang dengan perasaan yang dongkol, pelayanan yang buruk.
Tulisan ini bukan bermaksud untuk memperburuk citra atau hal yang buruk terhadap Pasaraya JM Kolonel Atomo – Palembang, namun hanya sebagai tempat curhat dan mungkin bisa dimanfaatkan oleh pembaca untuk berhati-hati bila berbelanja di Pasaraya JM Kolonel Atmo Palembang, sehingga hanya saya yang mengalami. Bukan harga yang membuat saya kesal, tetapi pelayanan yang buruk yang membuat saya geleng-geleng kepala.





